Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, Pendidikan untuk Keberlangsungan Hidup Manusia


Penulis : Djajeng Baskoro


Semakin hari dunia semakin "panas" saja. Peperangan, bencana alam, jumlah penduduk yang semakin padat, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran alam, kelangkaan air bersih-energi-bahan makanan, lunturnya moral bangsa, serta segala kejadian yang mengakibatkan manusia punah dan lingkungan hidup rusak terus terjadi.

Peristiwa ini merupakan akibat dari kerakusan, keserakahan, ketamakan, ketidakpedulian manusia, serta sikap menghamba pada keduniawian.  Pada akhirnya, perbuatan tersebut bisa mengakibatkan bencana kemanusiaan, yang pada suatu saat akan membuat koloni manusia dan alam seisinya punah. Hal ini tentunya bertentangan dengan firman Tuhan yang menyatakan manusia diciptakan untuk menjadi rahmat semesta alam. Oleh karena itu, tidak sepatutnya manusia bersikap egois dengan menganggap kehidupan saat ini hanya penting untuk dirinya.

Sebagai manusia, Tuhan telah membekali kita semua dengan moral, akal, dan fisik. Kelebihan inilah yang selayaknya digunakan manusia untuk menemukan ilmu pengetahuan, yang merupakan solusi atas tiap permasalahan dalam kehidupan.

Demografi, sosial dan ekonomi bergerak dengan pesat di planet ini.  Tak cukup hanya dengan melakukan kesepakatan politik, intensif keuangan ataupun teknologi, diperlukan perubahan pola pikir dan tindakan yang kompleks. Penguasaan ilmu pengetahuan diperlukan untuk menghadapi perubahan yang berlangsung cepat dan tidak dapat diprediksi.

Terkait dengan hal itu, peran pendidikan sangatlah penting. Khususnya pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, memiliki posisi strategis dalam mewujudkan hari esok lebih baik. Dengan pendidikan ini, manusia dapat berpikir ulang bagaimana mengaitkan dirinya dengan satu sama lain dan bagaimana berinteraksi dengan lingkungan untuk mendukung keberlangsungan hidup manusia.

Memahami Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (PPB) memberdayakan peserta didik untuk berperan aktif dalam diskusi dan tanggap atas kondisi lingkungan hidup, ekonomi, budaya dan dinamika masyarakat, baik pada saat ini maupun pada generasi yang akan datang.

PPB merupakan pendidikan sepanjang hayat yang berpadu dengan pendidikan berkualitas. Pendidikan ini menekankan pada isi dan hasil belajar, pedagogig, dan lingkungan belajar. Dimensi PPB adalah sebagai berikut:
  • Isi belajar: mengintegrasikan isu kritis, seperti perubahan iklim, keragaman biologi, tanggap bencana, konsumsi dan produksi berkelanjutan ke dalam kurikulum
  • Pedagogi dan lingkungan belajar: mendesain pengajaran dan pembelajaran secara interaktif, fokus pada peserta didik untuk mampu menjelaskan, berorientasi pada aksi dan pembelajaran transformatif. Berpikir ulang lingkungan belajar secara fisik termasuk pembelajaran vitual atau online (daring) guna menginspirasi peserta didik untuk aksi berkelanjutan
  • Hasil belajar: stimulasi pembelajaran dan promosi kompetensi pokok, termasuk berpikir kritis, kolaborasi dalam pengambil keputusan, dan bertanggungjawab untuk hasil kini dan pada generasi yang akan datang.



  • Tranformasi sosial: memberdayakan peserta didik segala usia dalam berbagai pola pembelajaran untuk perubahan (transformasi) diri dan masyarakat, yaitu:

a) memungkinkan transisi ke "ekonomi dan masyarakat hijau", yakni membekali peserta didik dengan kecakapan green job (pekerjaan yang mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh industri di sektor ekonomi, ke tingkat yang wajar dan pada saat bersamaan memenuhi kriteria pekerjaan yang layak), dan memotivasi orang untuk mengadopsi gaya hidup berkelanjutan,

b) memberdayakan peserta didik untuk menjadi warga negara dunia yang terlibat dan memegang peran aktif baik di tingkat lokal dan global, untuk menghadapi dan mencari solusi atas tantangan global. Diharapkan pula peserta didik menjadi kontributor yang proaktif dalam hal perdamaian, toleran, inklusif, dunia yang lebih aman dan berkelanjutan.


Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Pada tahun 2005, Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Decade of Education for Sustainable Development) dideklarasikan PBB untuk memperkuat peran pendidikan dalam mempromosikan pendidikan berkelanjutan. UNESCO, sebagai badan PBB di bidang pendidikan dan budaya menjadi sektor pemimpin (leading sector) yang memerankan peranan vital bersama pemangku kepentingan (stake holder) dalam mendorong keberhasilan dari misi tersebut.

Dekade PPB bertujuan untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip, nilai, dan praktek pembangunan berkelanjutan ke dalam aspek pendidikan dan pembelajaran. Upaya ini diharapkan akan mendorong perubahan sikap yang dapat menciptakan masa depan berkelanjutan dalam konteks integritas lingkungan, pembangunan ekonomi, dan komunitas yang adil, baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.


PPB merupakan konsep dinamis yang mencakup sebuah visi baru pendidikan yang mengusahakan pemberdayaan orang segala usia untuk turut bertanggung jawab dalam menciptakan sebuah masa depan berkelanjutan. Pendidikan tersebut membantu individu untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk membuat keputusan yang memberi keuntungan pada diri mereka sendiri maupun orang lain, sekarang dan di masa depan, dan untuk bertindak berdasarkan keputusan tersebut.


Dengan demikian, PPB mengupayakan untuk mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat ke arah yang positif.
Nilai-nilai yang perlu dikembangkan untuk menuju perubahan itu adalah sebagai berikut:

1.      Menghargai nilai-nilai dan hak-hak semua manusia di dunia dan komitmen terhadap keadilan sosial dan ekonomi bagi semua.

2.      Menghargai hak-hak asasi manusia generasi mendatang dan komitmen terhadap tanggungjawab antar-generasi.

3.      Menghargai dan peduli pada kehidupan komunitas dengan keanekaragamannya yang mencakup perlindungan dan perbaikan terhadap ekosistem planet bumi.

4.  Menghargai keanekargaman budaya dan komitmen untuk membangun toleransi budaya lokal dan global, perdamaian dan anti kekerasan (non-violence).

Konferensi Dunia Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan UNESCO

Tanggal 10 hingga 14 November 2014 telah diadakan Konfrensi Dunia Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (UNESCO World Conference on Education for Sustainable Development) di Nagoya, Jepang.



Konferensi tentang tersebut  bertujuan agar semua bangsa di dunia memahami dan mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan. Dengan demikian dapat mengubah pola pikir, meningkatkan nilai, kecakapan, dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun masyarakat berkelanjutan, sejalan dengan arah kebijakan "The United Nation Decade of Education for Sustainable Development (2005-2014)".

Untuk itu, tema dan materi yang didiskusikan di Nagoya mencakup capaian, tantangan, dan strategi dalam PPB. Terkait capaian dan tantangan PPB, Jepang merupakan salah satu negara yang sangat baik mengimplementasikan PPB. Mulai dari kebijakan, program inovatif yang dilaksanakan, kontribusi dari lembaga pemerintah pusat dan daerah, lembaga swasta, perguruan tinggi, masyarakat, dan pemuda berpadu untuk bertindak dalam koridor pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.


Sementara itu, dalam menghadapi tantangan, negara-negara maju dinilai sudah mampu mendirikan pilar PPB, yakni pendidikan ekonomi, sosial budaya, pendidikan lingkungan hidup termasuk juga politik. Akan tetapi, untuk berbagai negara lain, mereka masih mengalami banyak kendala. Di antaranya adalah kerentanan terhadap perang saudara, kekurangan air, makanan, penyakit, maupun keterbatasan energi, serta lingkungan alam yang ekstrim seperti bencana alam, lemahnya kesadaran pemerintah dan warga negara atas situasi dan kondisi lingkungan hidupnya, dan kurangnya peran pemuda.


Di negara-negara tertentu,  tidak berjalannya peran pemuda disebabkan oleh kebiasaan orang tua yang mempengaruhi kreativitas dan kemandirian pemuda dalam berkontribusi terhadap pembangunan negaranya, lingkungan hidup, dan bahkan masa depan mereka. Hal itu mengakibatkan para pemuda kurang sadar atas permasalahan yang timbul di sekitarnya.


Padahal, kesadaran atas kondisi negara, penting bagi setiap warga negara untuk mampu mencari solusi atas permasalahan. Masalah yang dihadapi pemuda saat dewasa mungkin lebih berat akibat dampak dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, peperangan, dan permasalahan sosial budaya, serta politik. Melalui kesadaranlah, solusi berupa PPB yang dilaksanakan melalui pendidikan masyarakat dapat berhasil diselenggarakan.

 

Strategi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Sebagai strategi untuk mengarahkan dan memberdayakan serta komitmen pemangku kepentingan PPB, Program Aksi Global mengindentifikasi lima aksi prioritas, sebagai berikut:
  • Mengembangkan kebijakan: Pengarusutamaan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dalam kebijakan PPB, mengembangkan  kondisi PPB, dan membawa ke arah perubahan yang sistemik. Kementerian pendidikan seluruh dunia bertanggung jawab memastikan bahwa sistem pendidikan di negaranya siap, sehingga mampu merespon keadaan dan tantangan keberlanjutan yang muncul. Selain itu, juga bertugas mengintegrasikan PPB ke dalam kurikulum sesuai standar nasional, dan mengembangkan kerangka indikator yang relevan guna memastikan standar hasil belajar. Hasil yang diharapkan dari pengembangan kebijakan adalah mengintegrasikan PPB ke dalam bagian sistem nasional, regional, kerangka kebijakan internasional, perencanaan, strategi, program dan proses yang terkait dengan pendidikan dan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, PPB mampu berkontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk sistem pengukuran mutu pendidikan nasional.
  • Transformasi lingkungan pembelajaran dan pelatihan. PPB tidak hanya diajarkan melalui metode ceramah, tetapi juga praktek pembangunan berkelanjutan. Dalam pembelajaran, para pendidik dan peserta didik perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip berkelanjutan ke dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, transformasi lingkungan belajar dan pelatihan tidak hanya pada fasilitas fisik semata, namun juga mengubah etos dan struktur pemerintahan keseluruhan lembaga. Untuk itu, diperlukan pengembangan visi dan rencana implementasi PPB yang didedikasikan dalam lingkungan pembelajaran dan pelatihan, bermitra dengan berbagai pemangku kepentingan. Pemimpin lembaga pembelajaran dan pelatihan juga diminta untuk berperan serta dalam PBB, tidak hanya fokus pada tranformasi isi tetapi pada pembangunan berkelanjutan. Mereka juga diharapkan berpartisipasi dalam praktek pembangunan berkelanjutan, termasuk bertindak dalam mengurangi jejak ekologi lembaga. Kolaborasi antara lembaga pembelajaran dan pelatihan dan tokoh masyarakat pun memiliki peran yang sangat penting.
  • Membangun Kapasitas Pendidik dan Pelatih. Pendidik dan pelatih merupakan agen perubahan yang dominan  untuk mengarahkan tanggung-jawab pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi, mereka memerlukan pengetahuan, kecakapan, sikap dan nilai yang memadai guna mengarahkan isu pembangunan berkelanjutan. Kemampuan mereka juga harus dikembangkan untuk meningkatkan motivasi dan komitmen. Oleh karena itu, pelatihan bagi pendidik sangat diperlukan, termasuk pelatihan untuk anak usia dini, siswa sekolah dasar dan sekolah menengah termasuk institusi keterampilan. Pada tingkat lanjutan, perguruan tinggi dapat mengintegrasikan PPB dalam pelatihan pertanian untuk meningkatkan kemampuan fakultas dalam mengajarkan isu berkelanjutan dan pembinaan penelitian terkait. Aksi yang lain adalah mengenalkan “keberlanjutan” kepada pengembang program professional bagi pendidik, pelatih dan staf, anggota dari lembaga swasta.
  • Memberdayakan dan memobilisasi pemuda. Sorotan utama dan bentuk masa depan berkelanjutan adalah pemuda. Generasi ini tidak hanya menghadapi konsekuensi dampak dari pembangunan tidak berkelanjutan hari ini, tetapi juga menanggung masalah pembangunan tidak berkelanjutan pada masa yang akan datang. Sebenarnya, pemuda memiliki potensi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Untuk itu, aksi yang dapat dilakukan ialah menyiapkan pemuda yang memiliki akses informasi dan komunikasi, termasuk media sosial. Tidak hanya untuk belajar tetapi juga memperluas jaringan. Pendekatan yang menjanjikan pun adalah pembelajaran elektronik (e-learning) dan bentuk daring (online), yang mana memberikan kesempatan bagi pemuda untuk berbagi ide. Misalnya dalam menanggapi aksi konsumerisme yang kini banyak menjangkiti pemuda di negara berkembang, ataupun bagaimana menjalani gaya hidup berkelanjutan.
  • Mempercepat solusi berkelanjutan pada tingkat lokal. Fenomena utama tantangan pembangunan berkelanjutan adalah perubahan iklim atau kemiskinan di sekeliling kita. Kesiapan penduduk dunia untuk menyerap pertumbuhan populasi yang cukup besar, menjadi tantangan dalam menghadapi pembangunan keberlanjutan. Di saat yang sama, banyak solusi yang penting banyak ditemukan di masyarakat pedesaan. Komunitas lokal, baik di kota dan desa, merupakan salah satu aspek penting untuk pembangunan berkelanjutan. Untuk itu, aksi yang dapat dilaksanakan yakni memperkuat jaringan kerjasama di tingkat lokal, dan meningkatkan kualitas sarana lokal untuk pendidikan dan kerja sama. Juga penting untuk memobilisasi berbagai pemangku kepentingan untuk terlibat. Otoritas lokal dan pemimpin lokal dapat meningkatkan kesempatan belajar masyarakat melalui jalur formal, nonformal dan informal. Pemberdayaan dan meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai agen perubahan adalah sesuatu yang esensial. (Ir. Djajeng Baskoro M.Pd)


Langganan Via SMS
Nomer HP


Langganan Via Email
Email
 
  Aplikasi

  Galeri


Pemetaan Mutu Prov. DKI Jakarta 2017


Pemetaan Mutu Angk. I