Sekolah rumah : Sebuah Sebuah Alternatif Layanan Pendidikan


Penulis : Tintin Kartini, Sri Purwanti, Desi Juwitaningsih



Setiap warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan pendidikan. Hal ini termuat dalam amandemen Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 28C yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkanpendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.  Pasal tersebut menyatakan bahwa memperoleh pendidikan merupakan hak seluruh warga negara tanpa kecuali, baik yang tinggal di perkotaan/pedesaan, masyarakat mampu atau tidak mampu, memiliki kemudahan akses pendidikan atau sulit megakses pendidikan.

Hak untuk memperoleh pendidikan tersebut, bisa diperoleh melalui 3 jalur yaitu  pendidikan formal, nonformal, dan informal seperti yang disebutkan dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 13 (1) yang berbunyi “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”.  Selanjutnya pada bagian enam pasal 27 (1) disebutkan bahwa pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.  Hal ini juga ditegaskan kembali dalam Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2010 tentang Perubahan Atas PP nomor 17 tahun 2010.

Dari pasal tersebut tersurat bahwa penyelenggara pendidikan informal adalah keluarga dan lingkungan.  Keluarga merupakan lembaga terkecil dimana pendidikan yang terarah, terencana, dan berkesinambungan dapat dimulai.   Pendidikan yang dilaksanakan di rumah adalah suatu proses pemindahan, pembentukan, kehidupan yang berkarakter, melalui contoh/teladan dan pelatihan yang terbentuk secara unik dan saling memberi warna.  Pendidikan dalam keluarga yang baik, dapat membuat seseorang mampu menemukan jati diri atau identitas dirinya.  Pendidikan seperti ini dikenal dengan nama sekolah rumah (Ace Suryadi, Ph.D, dalam pengantar  Buku Komunitas Sekolahrumah sebagai Satuan Pendidikan Keaksaraan, 2007)

Dengan mulai dikeluarkannya peraturan yang menjamin keberadaan sekolahrumah, bukan tidak mungkin akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menyelengarakan sekolahrumah.  Bahkan sebelum terbitnya peraturan tersebut, menurut data Asah Pena, peminat sekolah rumah meningkat pesat. Di Komunitas Asah Pena saja, dari sekitar 5.000 keluarga pada tahun 2012, jumlah anggota meningkat menjadi 11.000 keluarga pada 2013 dan mencapai 30.000 keluarga pada 2014. (Kompas, 16 Maret 2015).

Pesatnya perkembangan jumlah pelaku sekolahrumah di Indonesia dilatarbelakangi oleh alasan-asalan seperti berikut ini.
1.Idealisme Orangtua 
Banyak orangtua pelaku sekolah rumah yang memilih jalur pendidikan ini untuk anak-anaknya dilatarbelakangi oleh keingin mereka memberikan pendidikan terbaik dengan cara mereka sendiri.  Para orangtua yang memilih sekolahrumah berdasarkan idealisme umumnya merancang dan melakukan sendiri proses pendidikan bagi anak-anak mereka.  Di samping mendidik sendiri, orangtua juga bisa mendatangkan guru privat untuk pelajaran-pelajaran yang perlu mendapatkan penguatan.  
2.Anak Memiliki Aktivitas Khusus
Alasan lainnya berkaitan dengan kegiatan anak yang biasanya sangat menyita waktu sehingga anak tidak amemiliki waktu yang cukup untuk belajar di sekolah formal.  

Aktivitas yang dimaksud seperti anak sebagai seniman atau olahragawan profesional.  Selain itu, ada anak yang belum menjadi seniman atau olahragawan professional tetapi sedang merintis ke arah menjadi seniman atau olahragawan professional sehingga membutuhkan waktu ekstra untuk mengasah bakat dan mengikuti berbagai kompetisi.
3.Alasan Keyakinan dan Norma
Di beberapa lingkungan tertentu, seringkali sebuah keluarga merupakan kaum minoritas dan tinggal di lingkungan yang berbeda sehingga sulit menemukan sekolah yang mengajarkan keyakinan sesuai dengan yang diyakini mereka. Sementara, orangtua ingin memberikan pendidikan yang sesuai dengan keyakinan yang dianutnya.  Selain alasan keyakinan agama, ada kalanya orangtua juga merasa khawatir dengan pergaulan anak di luar rumah.  Untuk menghindarkan anak dari pergaulan yang tidak sesuai dengan norma yang dianut, mereka lebih memilih mendidik sendiri anaknya di rumah.
4.Alasan Domisili
Banyak diantara orangtua yang memilih sekolahrumah karena alsan tempat tinggal; orangtua sering berpindah-pindah domisili sehingga anak-anak sering berpindah-pindah sekolah dan mengakibatkan mereka sulit untuk selalu menyesuaikan diri dan mengejar pembelajaran di tempat baru. Untuk pelaku sekolahrumah yang berlatar belakang seperti ini, umumnya pembelajaran dilakukan jarak jauh ataupun di bawah bimbingan langsung orangtua.
5.Anak dengan Kondisi Khusus
Yang dimaksudkan dengan anak yang memiliki kondisi khusus dalam konteks ini antara lain:
a.Anak Jenius
Anak dengan kondisi semacam ini biasanya tidak terakomodasi secara maksimal di sekolah formal.  
Pembelajaran di sekolah umum secara klasikal dan dalam jumlah yang besar, biasanya kurang memberikan stimulasi yang cukup menantang dan mengoptimalkan kecerdasan mereka.  Jika dipaksakan belajar dalam kondisi kelas besar dan tidak ditangani khusus, biasanya anak jenis akan mudah bosan yang pada akhirnya kejeniusannya tersebut tidak teroptimalkan, bahkan prestasi akademiknya bisa malah merosot.
b.Anak slow learner
Kebalikan dari anak  jenius, terdapat pula anak yang memiliki kesulitan belajar karena memiliki keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran.  Anak dengan kasus seperti ini juga akan mengalami kesulitan jika dimasukan ke dalam kelas klasikal dan besar.
c.Anak dengan keterbatasan 
Anak dengan keterbatasan fisik maupun mental, umumnya juga sulit untuk mengikuti pembelajaran di sekolah formal dengan kelas yang besar.  Pilihan untuk anak dengan kondisi ini antara lain dengan mengikuti pembelajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB).  Tetapi, di antara orangtua ada pula yang lebih memilih sekolahrumah.  
6.Anak memiliki masalah di sekolah formal sehingga mengharuskannya untuk mengundurkan diri.

Menyimak pengalaman para orangtua dalam melaksanakan pendidikan bagi anak-anaknya melalui sekolahrumah, hampir bisa dipastikan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan berlainan antara satu keluarga dengan keluarga lain, satu komunitas dengan komunitas lainnya.  Misalnya dalam satu keluarga, walaupun terdapat lebih dari satu anak, tetapi pembelajaran yang diterapkan untuk satu anak dengan anak lainnya tidak selalu sepola; demikian juga untuk pembelajaran di komunitas, untuk peserta yang memiliki level samapun, proses pembelajaran bisa jadi berbeda untuk setiap anak karena karakteristik setiap anak berbeda dengan anak lain.  Hal ini merupakan salah satu kekhasan yang ditawarkan oleh pembelajaran di sekolahrumah, dimana karakteristik khas belajar anak betul-betul menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pembelajaran. Untuk memfasilitasi anak dengan kecepatan belajar maupun gaya belajar yang berlainan tersebut perlu pendekatan secara individu.  Pendekatan secara individu ini diperlukan supaya anak mampu mengembangkan minat, bakat, serta kemampuannya sesuaikan dengan kondisi masing-masing.   
Pemerintah dan Pemerintah Daerah tidak hanya berkewajiban memberikan perlindungan hukum berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan melalui sekolahrumah, tetapi juga berkewajiban untuk mendampingi dan membina pelaksanaannya.  Hal ini diperlukan supaya proses pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan tersebut tetap sejalan dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
Jadiapa yang bisakitalakukan? 
  


Langganan Via SMS
Nomer HP


Langganan Via Email
Email
 
  Aplikasi

  Galeri


Pameran HAI 2017 Kuningan


Pemetaan Mutu Prov. DKI Jakarta 2017